Nebula

Kepada: Shelby Adrianne Sheffrinne

 

denyar di lautan

…nun jauh,

pijar cahaya di sela langit jingga dan

riap ombak yang menanjak.

kangen ini;

napas cintamu, kerap kurasakan berhembus

begitu dekat dengan detak jantungku.

seluas lautan, seluas jumantara, –sepanjang hari.

 

D.C

BAYANG

BAYANG

Sebuah Cerpen Karya: Delbin -Delune- Clyte

 

 

Malam yang hening, bagi Dita, kendati lamat-lamat bising kendara lalu-lalang di jalan raya terdengar sampai ke ruangan perkantoran. Perempuan berambut sebahu dan berkulit sawo matang ini tengah menatap langit malam Jakarta yang tengah terang purnama, dari jendela kantornya yang terletak di lantai Sembilan. Entah apa yang ada di benaknya, dia nampak begitu khidmat, dan begitu larut akan lamunannya sendiri. “Bulan, kini aku tahu seperti apa rasanya mencoba bersinar sendirian.” Dita menggumam kecil, tiba-tiba matanya berkaca-kaca seperti ada yang hendak tumpah namun berusaha dicegah dengan keras.

“Pulanglah, Dita, kamu capek, perlu istirahat,” tiba-tiba suara Tiara, atasan Dita, memecah lamunannya, “kerjaan kamu dilanjutkan Senin saja.”

“Oh…, nggg…, tidak, Bu, tanggung,” Dita terkejut dan berusaha menyembunyikan kegelisahannya, “lagi pula besok akhir pekan, dan aku butuh kesibukan ini.”

“Ya sudah, Ibu duluan, kalau perlu apa-apa masih ada Husni di belakang.”

 

***

 

Dita berjalan menyusuri trotoar menuju ke halte, malam sudah cukup larut. Meski begitu, suasana di kota ini masih ramai, Jakarta namanya, kota di mana mimpi-mimpi berseliweran dan begitu banyak yang ingin menangkapnya. Mungkin, karna itulah hingga larut malam masih seramai ini. Baru sampai Dita di halte tempat dia menunggu taksi, tiba-tiba telepon genggamnya berdering.

“Iya?” Dita segera mengangkatnya.

“Kamu di mana, Dit?” Ucap Irene, teman Dita.

“Di jalan, baru mau pulang.”

“Jam segini baru pulang? Wuih, rajin banget kamu. Jadi ikut, ngga? Kami udah otw, nih.”

“Mmhh…, ngga tau deh, males aku, Ren.”

“Ayolah, jangan galau terus. Lagian percaya aja sama Inggit, nanti juga dia ngasi kabar.”

Dita terdiam sejenak, “Iya, liat nanti deh, nanti aku kabarin.”

“Sip. Take care, Darling.”

 

Baru saja Dita menutup telepon, kebetulan ada taksi kosong melintas, Dita buru-buru menyetop taksi itu lalu masuk dari pintu belakang.

“Selamat malam, Mbak. Ke mana tujuannya?”

“Ke daerah Mampang ya, Pak, jalan Bangka.”

 

Taksi melaju dengan cukup kencang. Situasi jalan raya kawasan Slipi ke arah Semanggi pada saat itu tidak terlalu ramai. Kendati baru pukul 23.15 WIB, namun suasana di jalur jalan itu tidak seramai seperti malam Sabtu biasanya. Dita sesekali melirik ke arah layar ponsel yang masih dia genggam, lalu menekan tombol satu, langsung terhubung dengan nomor Inggit, kekasih Dita. Lekas ditutupnya kembali, nomor telepon Inggit masih tak aktif. “Kamu di mana, Sayang, kenapa udah tiga hari ngga ada kabar?” Dita berucap dalam hati, mimik wajahnya penuh kecemasan.

 

“Maaf, Pak, kita ke arah Kota aja.” Tiba-tiba Dita mengubah arah tujuan, nampaknya dia hendak menyusul teman-temannya ke sebuah club malam di bilangan Mangga Besar. Dita masih mengenakan kemeja, tapi dia memakai celana jeans. Jadi, dia pikir tak perlu pulang dulu ke rumah untuk mengganti pakaian. Buang-buang waktu pikirnya.

 

***

 

Good morning everybody, welcome to…

 

Tiba-tiba suara DJ memecah kebisingan, serentak semua orang bersorak penuh semangat, hentakan kaki para clubbers bikin tambah meriah suasana.

“Kok diem aja, kamu BT ya, Dit?” Tanya Kandar dengan sedikit berteriak karna bising.

“Iya, kamu ngga neken?” Sambung Irene.

“Ngga, nyantai aja, aku lagi ngga mood, minum juga cukup, kok.”

“Beneran? Aku beli cece buat kamu juga, nih.” Ujar Romi sembari merogoh kantong.

“Ngga, ngga, ngga usah.”

“Pokoknya have fun ya malam ini. Jangan galau teyuuus!” Ujar Irene sambil mencubit lembut pipi Dita.

 

Tetap saja, Dita lebih banyak diam dan tidak berdansa seperti biasanya. Pikirannya malah menerawang jauh, sebab di club malam ini ialah tempat kenangan dia dan Inggit, kekasihnya yang sudah tiga hari tanpa kabar itu. Dita dan Inggit telah sepuluh bulan menjalin hubungan khusus, mereka sangat saling menyayangi, saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Tapi, sejak Inggit dipindah-tugaskan bekerja ke Batam, Dita kerap galau, terutama tiga hari terakhir ini semenjak Inggit tak ada kabar sedikitpun, tidak seperti biasanya. Dita sudah berusaha mencari kabar ke keluarga Inggit, tapi hasilnya nihil, malahan keluarga Inggit ikut-ikutan cemas. Dita percaya kepada Inggit, kekasihnya tak mungkin berselingkuh di belakangnya.

“Aku duluan, ya.” Tiba-tiba Dita berpamit.

“Lho, mau ke mana, Dit?” Irene dan yang lainnya terperanjat.

“Aku beneran lagi ngga mood, aku duluan, ya.”

“Yakin, kamu ngga apa-apa, kan?” Tanya Romi dengan nada cemas.

“Iya, yakin. Udah, kalian lanjut aja, nanti malah parno lagi.”

Irene berbisik kepada Romi, “Anterin Dita dong, Rom. Kasian dia pulang sendirian.”

“Ngga usah, ngga apa-apa kok, aku pulang sendirian aja naik taksi.” Dita mendengar Irene yang meminta Romi untuk mengantar dia.

 

***

 

Sabtu sore yang mendung. Nampak Dita duduk di sudut cafe bilangan Thamrin seorang diri. Dia menyulut rokok sembari asyik memainkan telepon genggamnya dengan sesekali menyesap jus stroberi. Dita begitu cantik mengenakan blus biru muda, kontras dengan warna langit senja kala itu dengan arakan awan kelabu.

“Hei, Dit!” Ical, teman sekantor Dita menyentuh pundaknya.

“Hei!” Dita terkejut, ponsel yang tengah dia pegang sampai terlempar.

“Aduh, aduh, maaf bikin kamu kaget.” Ical lekas mengambilkan ponsel dan duduk di kursi depan Dita.

“Hehehe. Iya ngga apa-apa, akunya juga sih keasyikan mainin hp. Kamu mau pesan apa, Cal, mau makan, minum?”

“Ngga, aku tadi udah makan, kok. Mana berkasnya?”

Dita mengelaurkan berkas pekerjaan yang akan dipresentasikan Senin nanti, “Beneran nih ngga apa-apa, Cal?”

“Iya ngga apa-apa, udah deh nyantai aja. Kamu udah dapet tiket?”

“Mmhh, udah dapet sih, tapi aku ngga yakin mau ke Batam besok.”

Ical menatap sendu paras Dita yang begitu cantik, lalu memegang tangan perempuan berhidung bangir itu di atas meja, “Kamu udah siap menerima kemungkinan yang terjadi?”

“Maksud kamu?” Dita menarik tangannya, menepis tangan Ical.

“Ya, kemungkinan, bisa aja Inggit selingkuh, atau pergi entah kemana.”

“Cukup! Hentikan, Cal. Aku percaya Inggit, kok.”

“Maaf, Dit…, aku…, aku masih mau kok kalo kamu bersedia menerima cintaku.”

“Tidak, Cal. Banyak perempuan lain yang lebih baik dan cantik, jangan lagi berharap aku menerima cintamu, aku ini lesbian!”

 

Suasana hening sejenak. Ical tertunduk  tak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya, Ical sudah cukup lama mencintai Dita, sudah berkali-kali pula dia meyakinkan Dita untuk menerima cintanya. Tapi Dita memang tidak menyukai laki-laki.

“Maaf, aku ngga bermaksud. Tapi aku benar-benar ngga bisa menerima cintamu, Cal. Please, ngertiin aku.”

“Iya ngga apa-apa, Dit.”

“Ya udah, aku mau pergi dulu, ya.”

“Mau ke mana kamu?”

“Aku janjian sama Irene di Menteng. Mau ikut?”

“Oh, ngga, aku juga udah janjian sama temen-temen.”

Yo wes, yuk pergi dari sini. Makasi ya, Cal.”

 

***

 

Angie, Angie, when will those clouds all disappear?

Angie, Angie, where will it lead us from here?

With no loving in our souls and no money in our coats

You can’t say we’re satisfied

But Angie, Angie, you can’t say we never tried

Angie, you’re beautiful, but ain’t it time we said good bye?

Angie, I still love you, remember all those nights we cried?

All the dreams we held so close seemed to all go up in smoke

 

Dita dan Irene duduk di dekat tiang dan meja billiard, beberapa meter dari band yang sedang tampil membawakan lagu berjudul Angie, yang dipopulerkan oleh Rolling Stones, sambil menikmati Blue Hawaii: cocktail dengan campuran rum, blue currant, jus nenas dan lemon yang dibikin shake di cafe kawasan Menteng. Meski cafe yang dikunjungi mereka terbilang kecil, tapi cukup ramai pengunjung. Konsep cafe ini mengikuti ide CBGB, sebuah cafe di New York, tempat main band-band rock n roll. Tempatnya sesak, kecil, asap di mana-mana dan bau alkohol.

“Hahaha. Ical masih aja nembak kamu?”

“Tauk tuh, bingung aku juga.”

“Kamu peletnya kuat sih, Dit.”

“Ye, enak aja!” Mereka tergelak-gelak asyik sendiri.

“Permisi, Kakak, ini pesanannya.” Seorang waitress mengantarkan pesanan Dita dan Irene.

“Oh iya, makasi, Mas.” Irene menyunggingkan senyum.

 

Mereka berbincang-bincang asyik, sembari mereguk tequila bergelas-gelas, lupa waktu. Irene sedikit lega melihat sobat karibnya dapat tertawa malam itu, meski terkadang tiba-tiba terdiam, ketika begitu, Irene langsung mengalihkan pikiran Dita dengan menceritakan hal-hal apa saja.

 

Tidak terasa sudah berjam-jam Dita dan Irene di sana, entah sudah berapa gelas minuman beralkohol yang direguk, mereka sudah cukup mabuk. Tiba-tiba ponsel Irene berbunyi, tanda ada pesan masuk. Irene segera membaca pesan masuk itu.

“Eh, Romi udah di parikiran, nih.”

“Loh, emangnya dia ke sini?”

“Iya, tadi sms, mau ngajak ke Kemang katanya. Yuk, Dit.”

“Duh, males ah.”

“Ye gimana, Romi udah jemput, nih.”

“Ya udah kamu aja, aku di sini aja.”

“Masa’ aku ninggalin kamu sendirian, yang bener dong, Dit.”

“Ngga apa-apa, lagian aku emang pengen sendirian.”

“Jangan dong, udah yuk ikut. Atau aku minta Romi ke sini aja ya, kita batalin ke Kemang.”

“Duh, jangan, Ren, jangan gitu. Beneran aku ngga apa-apa, aku emang lagi males rame-rame, beneran ngga apa-apa, aku bisa jaga diri, kok.”

“Beneran, nih?”

“Iyaa bener, Sayang… Udah buruan, kasian tuh Romi nungguin.”

“Ya udah, kamu baik-baik ya, kalo ada apa-apa telepon aku aja.”

“Sip!”

 

Setelah cipika-cipiki Irene meninggalkan Dita dengan perasaan cemas. Percuma juga membujuk Dita, dia sudah tahu betul watak temannya itu.

“Mas, pesan tequila lagi, ya.” Dita kembali memesan minuman.

 

Cukup lama Dita di cafe itu, dan dia juga sudah cukup mabuk. Dia kenal dengan beberapa orang di sana, karna itulah Dita berani di sana seorang diri. Dita beranjak dari duduknya, berjalan sempoyongan ke arah toilet.

“Sial, pas aku berdiri berasa banget mabuknya. Aduduh…!” Dita nyaris ambruk, namun tiba-tiba ada yang merangkul.

“Hati-hati, Sayang!”

JRENG! Dita terperanjat, di sebelahnya, ternyata Inggit yang merangkul! “Inggit?!”

“Iya, ini aku,” Inggit tersenyum manis dan memapah kekasihnya itu, “ayo, kita keluar dari sini, kamu udah mabuk banget.”

 

***

 

Di ranjang kamar hotel, yang terletak tak jauh dari cafe rock n roll tadi, Dita masih tak percaya menatap Inggit yang rambutnya sudah sepinggang, panjang dan semakin cantik. Dia tak yakin akan pemandangan di hadapannya itu, apakah karna mabuk, atau memang Inggit.

“Kamu…”

“Iya, ini aku! Emangnya kamu udah ngga ngenalin aku lagi?”

Dita langsung memeluk Inggit, erat sekali, air matanya tumpah tak terbendung, “Kamu ke mana aja, Sayang? Aku kangen…”

“Maaf kalo bikin kamu cemas, aku ada kok, ngga ke mana-mana.” Inggit membelai rambut Dita, lembut sekali.

“Kok ngga ada kabar, sih? Aku hubungi hp kamu ngga pernah aktif, kamu ke mana?”

 

Tanpa menjawab pertanyaan, Inggit langsung mengecup kening Dita. Mereka saling bersitatap sejenak, lalu mendaratkan kecupan di bibir, saling pagut, saling melumat berciuman dengan begitu hangat, penuh kerinduan. Tanpa kata-kata lagi, malam itu mereka bercumbu melepas rindu.

 

***

 

Pukul 07.45 WIB Dita terjaga, dan meraba-raba sisi kirinya, lalu terkejut di sebelah tak dia dapati siapa-siapa. Dita bangkit terduduk memperhatikan sekitar tak ada siapa-siapa, hanya mendapati pakaiannya yang tanggal. Dia beranjak ke kamar mandi, siapa tahu Inggit berada di sana pikirnya. Namun kamar mandi pun kosong. Lalu Dita bergegas mengambil telepon genggamnya, mencoba menghubungi Inggit, tapi lagi-lagi nomor ponsel Inggit tak aktif.

“Duh, kamu ke mana, sih? Menghilang terus!”

 

Dita memakai pakaiannya dan duduk di atas ranjang sembari menonton televisi, menunggu Inggit. Dia pikir, barangkali Inggit hanya keluar sebentar, membeli makanan mungkin. Namun sampai pukul 08.30 batang hidung Inggit tak juga nampak. Dita mulai gusar. Dia mencoba menelepon Irene, menanyakan kalau-kalau Inggit menghubungi sobat karibnya itu. Beberapa kali terdengar nada sambung, tapi tiada jawaban.

“Dasar kebo! Pasti ini anak masih tidur, deh.” Dengan kesal Dita mematikan panggilan yang tak ada jawaban. “Apa Inggit balik lagi ke Batam, ya?” Tiba-tiba terlintas di benaknya seperti itu.

 

Dita teringat mempunyai tiket ke Batam pukul 13.35 nanti. Lalu buru-buru pergi dari kamar berniat hendak menyusul Inggit yang menurutnya telah kembali ke Batam. Ketika di lobi, Dita sempat menanyakan tentang Inggit, tentang atas nama siapa kamar yang dia tempati tadi, tetapi kata resepsionis kamar itu dipesan atas nama Dita, dan tak tahu dengan siapa dia semalam, karna resepsionis yang bertugas berbeda dengan yang semalam. Lalu dia bergegas keluar hendak menuju rumahnya, terburu-buru, pasalnya dia tak ingin ketinggalan pesawat terbang yang akan dia tumpangi.

 

***

 

Pukul 15.10 WIB Dita telah mendarat di bandara Hang Nadim. Dia tidak membawa banyak barang, hanya membawa koper kecil dan tas yang dibawa sehari-hari. Tidak ingin membuang-buang waktu, Dita segera menaiki taksi dan menuju ke alamat yang pernah Inggit berikan.

“Ke Nagoya ya, Pak.”

 

Empat puluh menit berlalu, setelah sedikit berputar-putar akhirnya Dita berhasil menemukan alamat yang pernah diberikan Inggit. Kost-kostan rupanya. Dita segera masuk dan bertanya kepada seorang perempuan, penjaga kost tersebut.

“Permisi, saya mau nanya, Mbak.”

“Oh iya, mau nanya apa, Mbak?”

“Kamar Inggit yang mana ya?”

“Oh, Inggit, itu, di kamar yang sebelah sana,” penjaga kost itu menunjuk ke sudut sebelah kanan, “kamar ke dua dari yang paling ujung. Tapi kayaknya Mbak Inggit ngga ada tuh, Mbak. Udah beberapa hari ngga keliatan.”

DEG! Jantung Dita berdetak kencang, dia tiba-tiba berfirasat buruk. “Baiklah, makasi ya, Mbak. Aku coba ke sana dulu.”

 

Dengan tanpa henti berdebar Dita mendekati kamar itu, hingga akhirnya tepat di depannya. Perlahan dia mengetuk pintu, “Git, Inggit, ini aku, kamu ada di dalam, kan?” Sekali, dua kali, tapi tetap tak ada jawaban. Dita tertunduk lemas, matanya merah berkaca-kaca dan langsung berlinang air mata. Disekanya air mata lalu berjalan ke luar.

“Gimana, Mbak, orangnya ada?” Penjaga kost itu bertanya.

“Ngga ada, Mbak. Pesen aja kalo nanti Inggit pulang, Dita datang ke sini.”

“Iya, Mbak, nanti aku sampaikan.”

“Makasi ya, Mbak, aku permisi dulu.”

 

***

 

Dita baru saja selesai berdandan, minimalis, tidak memakai make up yang berlebihan juga hanya memakai jeans dan kaos. Meninggalkan kamar hotel hendak pergi ke bar yang masih terletak di sekitaran hotel juga. Dita masih di Batam, dia keesokan harinya berencana akan ke kantor Inggit, ingin mencari tahu keberadaan kekasihnya itu di tempat Inggit bekerja. Tiba di bar, Dita langsung memesan minuman beralkohol, duduk di depan bartender.

 

Dita minum bergelas-gelas scotch, tanpa mempedulikan suasana, tanpa mempedulikan laki-laki yang mendekatinya. Hingga laki-laki yang berusaha mendekati Dita tersebut pergi karna diacuhkan, Dita masih terus saja minum tanpa henti. Dia begitu nampak stress. Mungkin, dengan mabuk, dia dapat meringankan beban, pikirnya begitu.

“Hadeuh, kebelet pipis lagi,” Dita beranjak, “toilet di mana ya, Mas?” Lalu bertanya kepada waitress.

“Di sebelah sana, Mbak.” Waitress menunjuk ke sudut kiri.

“Makasi.”

 

Dengan sempoyongan Dita berjalan ke arah toilet yang ditunjukkan oleh waitress tadi, ada dua pintu berhadap-hadapan yang bertuliskan ‘toilet’, lalu masuk begitu saja ke pintu sebelah kiri.

What are you doing here? Do you want to sneak peek?!” Seorang bule laki-laki yang sedang buang air kecil terkejut melihat kehadiran Dita.

Dita kaget bukan main, ternyata itu toilet lelaki, “Ups, sorry!” Buru-buru Dita keluar dari toilet, menabrak pintu, tersandung dan jatuh.

Bule itu menggeleng-gelengkan kepala sambil cengengesan, “Crazy woman!

 

Tiba-tiba Inggit berdiri di hadapan Dita yang masih terduduk, perlahan Dita yang belum menyadari kehadiran Inggit melihat ke atas.

“Ayo berdiri.” Inggit mengulurkan tangan.

“Kamu…!” Dita bangkit sambil memegang tangan Inggit, lekas dipeluknya erat-erat kekasihnya itu, “Aku kangen…, kamu ke mana aja, sih?”

“Kan udah kubilang, aku ada, selalu ada di deket kamu.” Inggit membalas pelukan Dita, mencoba menenangkan kekasihnya yang tengah menangis itu.

Dita tak merenggangkan dekapan, “Bohong! Kamu pembohong!”

“Ssttt… Yuk ke kamar, kamu udah mabuk banget. Kamu nginep di hotel ini, kan?”

 

Dita mengangguk. Inggit memapahnya berjalan ke arah kamar hotel tempat Dita menginap. Setibanya di kamar Dita direbahkan oleh Inggit perlahan, lalu beranjak.

“Hei, kamu mau ke mana lagi, sih?” Dita menarik tangan Inggit.

“Ngga, Sayang, aku ngga ke mana-mana, udah kamu bobo’an aja.”

“Awas kamu kalo pergi lagi, sini, temenin aku!”

“Iya. Duh, manja banget sih kamu ini,” Inggit merebahkan diri di samping Dita, “omong-omong, kamu ngapain di sini?”

“Kok nanya gitu? Ya nyariin kamu, lah! Kamu udah ngga sayang aku, ya?” Dita merengut.

“Cup cup cup. Kata siapa, aku sayang banget sama kamu, makanya aku ada di sini sekarang.”

“Makanya, udah dong, kamu jangan menghilang lagi, aku butuh kamu.”

Inggit terdiam sejenak, “Udah, kamu bobo, gih. Muka kamu kucel banget tuh.”

“Iya. Tapi kamu jangan ke mana-mana, ya.”

“Iya, Sayang…” Inggit mengecup kening Dita.

***

 

Hari sudah pagi, Dita masih terlelap, dia seperti sedang tersenyum, dari parasnya Dita seperti sedang bermimpi indah. Sementara di sampingnya kosong, tiada Inggit. Di lobi nampak seorang lelaki yang tengah membaca koran, membaca berita pembunuhan.

“Pihak berwajib telah memastikan korban mutilasi di daerah Mata Kucing, Batam, lima hari lalu bernama Inggita Rahayu, penduduk asli Jakarta,” Ucap lelaki itu membaca koran, “duh, kasihan perempuan ini.”

 

 

Tamat…

Sekali Lagi

Kepada: Shelby Adrianne Sheffrinne

 

 

sekali lagi,

aku ingin merasakan

udara yang bercampur dengan

wangi tubuhmu.

 

merasakan cahaya

merambat di sekujur tubuh kita yang saling

dekap, hingga segala gundah nestapa

meluruh dan senyap.

 

sejenak istirah dalam perjalanan ini,

kamu, jua aku, kembali ke tempat yang memang

telah lama kita temukan. bukan kita abai, sebab jarak

kepalang tanggung untuk ditempuh.

 

ingin kurasakan hembusan

napasmu lembut di bibirku, tatkala jemari

menyentuh pipimu, merasakan hangat

kangen yang telah lama kita pendam.

 

aku ingat cara kamu tertawa,

suara nan lembut menembang rindu,

bagaimana manjanya bisikanmu,

aku selalu mengingatnya.

 

maka sekali lagi,

aku ingin menyaksikan

kamu ada, benar-benar, ada.

–di sini.

 

 

 

D.C

Cinta

Malam yang hening. Bulan berpendar begitu anggun, pun bintang berhamburan di hamparan jumantara yang cerah. Langit malam sangat indah, ditambah dengan kerlip kunang-kunang menambah keindahan, suasana yang sangat romantis. Rindu mengusap-usap permukaan pipi Cinta sambil sesekali membelai rambutnya, sementara Cinta hanya menatap mata Rindu begitu lekat.

“Menikahlah denganku.”

“Apa?”

“Menikahlah denganku.”

“Hah?”

“Menikahlah denganku, Cinta. Apakah suaraku kurang jelas?”

“Nggg…,” Cinta hanya tertunduk tanpa menjawab pertanyaan Rindu.

“Kok ngga jawab? Kamu ngga mau nikah denganku, ya?”

“Bukan ngga mau, sayang.”

“Lalu apa? Sudah berkali-kali aku ngajak kamu menikah.”

“Aku rasa waktunya belum tepat.”

“Tapi kita kan sudah cukup lama pacaran, apa kamu ngga yakin denganku?”

“Bukan ngga yakin. Sudah ya, nikmati aja dulu malam ini. Aku ngga mau berdebat sama kamu sekarang.”

 

Rindu hanya terdiam. Sebenarnya dia belum puas dengan jawaban Cinta, tapi malam ini terlalu indah untuk berdebat, begitu pikirnya. Rindu dan Cinta memang sudah cukup lama menjalin asmara. Mereka bertemu sekitar satu tahun lalu di acara pernikahan seorang karib. Dan sepakat untuk menjadi sepasang kekasih satu bulan setelahnya. Rindu sangat ingin menikahi Cinta tepat usia satu tahun hubungan mereka, tapi Cinta selalu seperti menghindar. Entah karna apa. Yang pasti, mereka berdua memang saling mencintai.

 

***

 

Rindu tertegun sejenak di depan pintu rumah Cinta. Dia terdiam mendengarkan percakapan Cinta di ponsel yang entah siapa lawan bicaranya. “Kamu ke rumahku nanti aja deh, besok aja ya, soalnya hari ini pacarku mau ke sini,” suara Cinta terdengar dari balik pintu, “bukan begitu, kalau dia tau kamu ke sini, aku kan jadi bingung harus menjelaskan apa.” Rindu jadi bertanya-tanya, siapa lawan bicara Cinta. Tapi ketika Cinta menoleh, dia melihat Rindu, lantas telepon buru-buru dimatikan.

“Hei, kamu sudah lama sampe?”

“Nggg…, ngga, baru kok.”

“Kok ngga bilang, atau ketuk pintu kek.”

“Aku ngga mau ganggu kamu.”

“Ye, apaan sih kamu. Ya sudah, ayo masuk.”

 

Rindu memang berjanji mau ke rumah Cinta sabtu petang itu. Tidak seperti biasanya, mereka ingin menghabiskan sabtu malam di rumah saja. Biasanya sabtu malam mereka habiskan dengan berkencan di restoran, cafe, atau di tempat pariwisata sekitaran puncak. Cinta tinggal di rumah kontrakan seorang diri. Menurut yang dia ceritakan kepada Rindu, ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya entah di mana. Hanya sanak keluarganya saja yang berada di kota.

“Sayang, aku belum mandi nih, aku mandi dulu ya.”

“Dasar, sudah sore begini kamu belum mandi?”

“Hehehe…, habis ini kan hari libur, jadi males.”

“Halah, bilang aja karna dari tadi sibuk telponan.”

“Apaan sih kamu! Ya udah, aku mandi dulu.”

 

Cinta bergegas ke belakang dengan merengut karna perkataan Rindu tadi. Sementara di hati Rindu masih berjejal tanya tentang hal tadi. Sebenarnya dia tak ingin mencurigai kekasihnya itu, tetapi dia benar-benar merasa ada yang mengganjal. Dengan perasaan yang was-was Rindu mengambil ponsel Cinta yang tergeletak di atas meja kecil di samping sofa. Dibukanya laporan panggilan terakhir dengan penuh selidik, siapa yang berbicara dengan Cinta tadi, tetapi yang tertera di layar ponsel hanya nomor tanpa nama. Merasa tidak puas, Rindu membuka kotak pesan. Dari sana dia mendapati pesan masuk dari nomor yang tadi menghubungi Cinta, “Aku mau ke tempat kamu sekarang, mau mengajak kamu ke suatu tempat, mau ngasi kamu surprise.” Sentak membuat dada Rindu sesak, dia benar-benar terbakar api cemburu. Dia jadi berpikir, hal ini kah yang membuar Cinta selalu mengulur-ulur waktu pernikahannya. Hatinya berkecamuk.

 

Beberapa saat kemudian Cinta keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat segar sehabis mandi. Rambutnya yang tergerai hitam dan masih sedikit basah membuat paras Cinta semakin terlihat cantik.

“Maaf ya, bikin kamu nunggu lama.”

“Nggg…, iya ngga apa-apa.”

“Kamu kenapa sih, sayang? Kok mukanya BT gitu? Kesel nungguin aku mandi, ya?”

“Ngga kok, tapi…,”

 

*cup…*

 

Belum usai Rindu berbicara, Cinta sudah melayangkan kecupan tepat di bibir Rindu, berlanjut dengan saling berpagut lidah. Rindu jadi terbawa suasana, pun mereka terlibat percumbuan yang dahsyat. Aroma tubuh Cinta yang wangi membuat Rindu semakin menggebu-gebu untuk mencumbu setiap lekuk tubuh Cinta. Ah, sabtu malam yang panjang.

 

***

 

“Jangan curiga dulu, Rin.” Ucap Dimas, teman rindu.

“Tapi isi SMS-nya itu, Mas, bikin aku tambah curiga.”

“Dari pada kamu menuduh yang belum tentu benar begitu, mending kamu buktikan dulu, Rin, hari ini kan orang itu mau ke rumah Cinta, pergoki aja.”

“Benar juga kamu!”

“Tapi saranku, jangan kabari Cinta terlebih dahulu kalau kamu mau ke rumahnya, langsung aja kesana.”

“Tentu, Mas, kalau aku kabari dia dulu, nanti ngga kepergok, kan. Okelah, aku segera bergegas.”

 

Rindu memacu sepeda motornya menuju rumah Cinta dengan sedikit tergesa-gesa. Keadaan ini sangat membuatnya tidak nyaman. Dia sangat berharap apa yang ada di benaknya tidak terjadi. Ketika sampai di dekat rumah Cinta, Rindu lekas mematikan mesin kendaraannya, dia tak ingin kedatangannya disadari oleh Cinta. Hatinya semakin membara tatkala mendapati sebuah mobil yang terparkir di depan pagar rumah Cinta. Dengan harap-harap cemas dan diam-diam Rindu memasuki pelataran rumah Cinta. Dan…, oh, Rindu terkejut bukan main menyaksikan kekasih yang sangat dia sayangi berpelukan dengan seorang lelaki dari balik kaca jendela. Hatinya bagai tercabik-cabik dan patah bagai ranting yang diterpa badai. Ingin rasanya Rindu mendobrak pintu rumah itu, tapi kakinya bergetar, seakan tak sanggup menghampiri lebih dekat lagi. Rindu langsung berbalik badan dan keluar pagar meninggalkan rumah. Sekilas Cinta melihat Rindu, lalu ia berlari keluar rumah hendak menghampiri kekasihnya itu. Tetapi ketika Cinta di depan pagar Rindu sudah menyalakan motornya.

 

“Rindu, Rindu…, tunggu sebentar.” Rindu menoleh sebentar, lalu segera menancap gas kencang-kencang. Melihat tingkah laku Rindu yang seperti itu Cinta yakin sekali bahwa kekasihnya sedang marah. Dia bergegas ke dalam rumah mengambil ponsel hendak menelpon Rindu, tapi tidak diangkat.

“Kak, aku permisi sebentar, ya.”

“Mau menyusul kekasihmu?”

“Iya, aku ngga mau dia salah paham, apalagi pergi dengan keadaan seperti itu, aku takut dia berbuat gegabah.”

“Ya sudah, aku antar ya.”

“Ngga usah, kak, aku naik ojek aja biar lebih cepat.”

“Okelah, kakak tungguin ya, kita kan harus bergegas ke kota menjenguk ayahmu.”

“Iya, kak.”

 

Cinta segera menaiki ojek, dengan tergesa-gesa menuju ke rumah Rindu. “Aku menuju rumahmu, sayang, mau menjelaskan semuanya, tungguin, jangan salah paham dulu.” Cinta mengirim SMS untuk Rindu. Ketika di tikungan ada sebuah mobil truk melaju cukup kencang dari arah berlawanan. Karna ojek yang Cinta tumpangi berada di jalur tengah, pengendaranya pun terkejut dan berusaha menghindar. Cinta yang dalam posisi baru saja meletakkan ponsel kedalam tasnya menjadi kaget dan tidak siap akan hal itu. Motor pun oleng, celakanya dari belakang ada mobil sedan yang melaju cukup kencang. Tabrakan tak bisa dihindari, motor ojek yang Cinta tumpangi tertabrak mobil sedan dari belakang. Motor terpental dan Cinta terpelanting ke tengah jalan. Lebih celakanya lagi ada pengendara motor lain dari arah berlawanan. Karna tepat berada di tikungan, pengendara itu terkejut dan tidak siap menghindar, Cinta tertabrak oleh motor itu cukup keras. Cinta sampai terpelanting ke pinggir jalan dan tersungkur. Darah mengucur deras dari kepala, hidung dan mulut. Cinta tewas seketika.

 

***

 

Sudah hampir satu jam Rindu menunggu kedatangan Cinta di rumahnya, tapi Cinta tak kunjung datang. Dengan perasaan yang semakin kesal dia pun mencoba menghubungi ponsel Cinta. Sekali, dua kali, tiga kali, tapi tiada jawaban. Rindu semakin kesal. Setelah itu ada panggilan masuk dari nomor yang kemarin Rindu lihat di panggilan masuk ponsel Cinta. Rindu menjadi berang dan langsung mengangkat ponselnya.

“Hei, kau sembunyikan di mana Cinta?”

“Tahan, dengar dulu ceritaku.”

“Aku tidak bisa bersabar. Pantas aja dia selama ini menolak lamaranku.”

“Hei, kau jangan salah paham, aku ini kakak sepupunya!”

“Bohong!”

“Hari ini kami berencana ketempat rumah ayahnya, aku baru beberapa hari lalu menemukan di mana ayahnya. Dia mau minta restu untuk hubungan kalian, baru sesudah itu dia ingin menikah denganmu.”

“…”

“Dan kau tahu? Cinta meninggal karna kecelakaan sewaktu hendak menyusul kau tadi!”

“APA?!”

 

 

 

Tamat…

Cinta Yang Baka

Kepada: Shelby Adrianne Sheffrinne

 

gerimis menapaki udara,

musim penghujan.

seperti lekat aroma santer cintamu

dilarungkan angin musim barat.

 

kesiur angin bergesekan dengan

hujan merinai, harmoni yang demikian

akrab di telinga. laksana alur kehidupan

semesta yang kerap sesuai porosnya.

 

aku termangu.

kubayangkan kau juga tengah

menatap sendu, butir-butir yang bikin

kangen tak kunjung lingsir dari punggung waktu.

 

“betapapun panjang usia,

akan tandas di ujung semesta.

namun doa akan menjelma cahaya,

menerangi cinta yang baka.”

 

bersama musim bergulir kita melangkah,

terus melangkah. kau dan aku akan melampaui

penantian ini. tumbuh-kembang cinta yang

telah tersemai tak akan musnah termakan zaman.

 

bahkan hingga kelak suatu senja yang dingin,

di masa penghabisan; di hadapan sang takdir

lengan akan bergetar memagut maut,

meski tahu, cinta tetaplah kekal.

 

maka biarkan gerimis kian deras lantas

luruh putik melati. aroma kerinduan

senantiasa mewangi, mekar menjadi

kembang di nyata dan mimpi.

 

“kau dan aku sama tahu

tiada yang abadi di dunia ini

selain cinta, namun kita,

telah memilikinya.”

 

D.C

 

*Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga segala yang baik kau dan aku inginkan lekas terwujud. 14 Februari 1990, hari kelahiranmu.

Getar Semesta

petang gaduh petang penuh rindu bikin hati melulu merahdadu

petang dengan corak langit menyala nyaris sewarna tembaga laksana helaihelai rambutmu yang jingga dan sepasang mripatmu begitu nampak mempesona

perasaan angin meniupkan namamu entah perasaanku entah memang demikian atau kangen memang membikin haluan benak ke yang bukanbukan namun getar hati selalu yakin kerinduan memang berdebar tak bukan tak lain hanya tentang engkau

perasaan bagai siluet yang kian memanjang seiring parasmu kekal menghiasi rembang tak kenal malam tak kenal pagi tak kenal siang sampai tak kenal petang sementara jemariku masyuk menyemai kembang di taman tempat mimpimimpi berlabuh yang tak jauh dari gigir pundakmu di mana duka luruh dan cahaya bergelantung di sangkur menikam nestapa yang tiada lagi berumur

pelukan demi pelukan menaklukkan angan lantas butir-butir hujan berjatuhan dari lingir awan membasahi semesta membasuh raga mencipta keajaiban keajaiban lewat udara lewat matamu terekam selaksa peristiwa yang lampau sembari menghitung seberapa embun runtuh

pelukan kelak tak akan menampik hasrat kau dan aku yang bergejolak untuk menumbuhkembangkan kebahagiaan kebahagiaan baru hingga kokoh mahligai kehidupan kita

 

 

D.C

*Sebuah sajak untuk: Shelby Adrianne Sheffrinne

Sebab Kerinduan

Kepada: Shelby Adrianne Sheffrinne

 

 

kangen ini;

ruh-ruh beterbangan

di atas telaga yang berkilau seterang purnama,

menuju tepi, mencari gaibnya.

 

kangen yang kerap tak dapat kita tawar,

sebab demikian debar-debar,

sudah teramat mengakar.

 

laksana dini hari

beranjak ke fajar yang berhujan

memanjakan angan, mekar kembang

dan berembun di pangkal pagi.

 

tentangmu selalu menjadi bunga,

tatkala aku di tengah bising, ataupun

ketika istirah dalam sepi.

 

alunan seruni dan namamu

lamat-lamat dilarungkan angin, saat

jumantara mabuk terlena,

terbuai dimanjakan keheningan sahaja.

 

selain pagi dan matamu,

adakah tempat cahaya terbit

melebihi kedamaian cinta?

 

segala yang kuingat,

segala yang menggetarkan;

rasakan, angin kerinduan berhembus,

dekat pada malam dan pagimu.

 

maka sejenak, pejamkan sepasang mripatmu

resapi setiap hembusan kangenku ini,

melebihi damai malam sepi, hangat laksana cahaya pagi.

 

 

D.C

Pecah

daging jadi debu benda jadi debu segala jadi debu

atas nama kelak semesta memperabukan nurani

memang banyak hal sudah sesuai porosnya

namun tak jarang yang melenceng dari alur

benar segala yang di langit bisa sewaktu-waktu jatuh

          dan kebanyakan manusia menyalahkan hukum gravitasi

sebuah frase kehidupan tanpa huruf-huruf kapital

          bukan berarti setiap sudut tak ada kapitalis

kian mengalun nada simetri di udara bikin pengang telinga

          tak kalah banyak pula suara sumbang dari bawah tanah

entah berapa kepala tercengang melompong

          menyimak lektur-lektur omong kosong

tiada renyah tawa anak baru gede pada kencan pertama

          taman seperti alat kontrasepsi yang kadaluwarsa

angan hanya sekedar gantungan kunci melekat di awan

          mimpi merangkak mencoba keluar dari liang lahat

banyak orang percaya puing menjadi hijau setelah dipugar

          semakin banyak pula aksi-aksi penentangan

pecah pecah pecah pecahkan saja

          hancur lebur somasi terkoyak-koyak

anjing-anjing kampung kini tak pernah kelaparan

          tiap sudut ada bangkai dan tulang-belulang

enak benar para begundal dinaungi hutan tropis

          bocah tak jadi mutant radiasi malah bikin mati

langit merah udara merah tanah merah laut merah

          sebagian kepala pecah sebagian malah bilang indah

 

D.C

Sebab Engkau

Kepada: Shelby Adrianne Sheffrinne

 

 

awan memanjang

lembab sejuk merambat di lengan

sebab kerinduan selalu datang

menyempurnakan angan

 

kaca kaca pada jendela berembun

acapkali membikin aku ngungun

nampak kupukupu di mata

namun tiada gaibnya

 

betapa angin merekam percakapan kita

lantas memutarkannya tepat di samping telinga

 

tidakkah nampak bunga bunga menjelma mata

seperti tirus katakata merasuki sukma

dan sediakala kangen memenuhi ingatan

hingga menjelma kerinduan

 

lihat langkah kaki musim gemetar

dengan segala amuk fatamorgana

kau dan aku tak perlu gentar

menghadapi kegilaan semesta

 

lalu waktu terhipnotis gerimis

lalu kisah kita kian hari semakin manis

 

 

 

D.C

Kisah Sepanjang Napas

Kepada: Shelby Adrianne Sheffrinne

 

Aku ingin menulis sebuah kisah, berjudul: Masa Depan. Di mana pada awal alinea pertama tertulis kata: waktu. Ya, waktu. Waktu pertama perjumpaan kita dahulu, menjadi sebuah awal dari cerita yang akan kutuangkan. Walau di setiap larik kalimat per kalimatnya masih abu-abu, tak tahu akan menggunakan jeda titik atau koma, tapi kupastikan akan selalu ada namamu. Tidak peduli seberapa panjang dan berapa lembar halaman, juga tidak peduli seberapa banyak huruf vocal dan konsonan, karna di tiap kalimatnya kuyakin pasti indah. Walau terkadang ada gugus kalimat yang mengisahkan tentang keruwetan dan dibumbui dengan linang air mata, tapi aku yakin akan tetap indah terbaca. Kau akan tersipu ketika membacanya, percayalah. Wajahmu akan merona seperti warna tinta merah muda yang akan kugunakan untuk menulis kisah ini.

 

Semoga kau tak jemu membacanya. Karna jemariku tak akan letih, kisah ini tak akan usai selama engkau tetap tinggal di hati. Juga selama napasku belum berhenti.



D.C

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.