Rindu Mengombak

aku mencintaimu,
siapapun kamu.

seperti Amuk cuaca di dada,
tak ingin mereda, bahkan ketika gundala
dan cahaya sua di jendela. tapi kita,
bukan carutmarut kendala yang diramalkan berita.

kubisikkan kepadamu tentang pulang dan hujan yang lantang,
juga muasal kembara angin yang Sejenak bikin resah
hingga tengkuk nyaris namun tak sampai basah.
hitam Bukan warna, katamu.
bahkan laut mati dan pijar pelangi
tak mampu menggantikan kita yang pagi.

napas hempas
dingin ingin
abu
gejolak
rindu
mengombak

lekas kemari, rentang lenganku
tak pernah sabar Ingin melingkar di tubuhmu.
sebab aku mencintaimu,
siapapun kamu.

 

D.C

Iklan

DERMAGA

ruang kosong di antara ruas jemarimu,
adalah janji manis Sang Musim,
yang meredakan amuk birahi cuaca.

namun ketiadaan,
tak pernah benarbenar bikin rampung angan,
pada Angin yang mengembus layar kapal nun jauh,
terombangambing menantikan
hangat kecupan dermaga.

bulan melaut dari teluk betismu,
sampai sua pula pada pusaran Gelombang tengkukmu.
o, berlayarlah hasrat ini, berlayar, menerjang air pasang.

maka Pelaut,
angkat sauh kendati lamun bergejolak dan surut.
dan segala yang hempas dan sunyi,
bermuara lantas tuntas,
di Bibirmu.

 

D.C

Jendela Hati

Mata.

Kenapa dijuluki Jendela Hati? Karena mata memang dapat menembus hati. Mulut mampu berbohong, tapi mata tidak. Mata dapat melihat hal-hal yang Indah, hal yang dapat dirasakan dengan hati.

Dengan mata aku bisa menyaksikan Senyumanmu.

 

D.C

Pergilah!

aku termenung.
cuaca kali ini telah sampai
pada alamat musim, yang membikin
bintang-bintang pulang
kepada keheningan hatimu.

lautan langit itu, Sayang, tak menyimpan
rahasia apa-apa, kecuali senyumanmu,
dan tangisanmu yang tak pernah
kumengerti kenapa.
namun denyar yang lampau
terlanjur terang, meski kamu
teramat ingin meredupkannya.

bila masa penghujan telah habis,
masihkah kamu menyimpan
payung yang dulu kerap kita kenakan,
untuk merayakan rintik kangen yang datang
bertubi-tubi? tak kudapati apa-apa lagi kini
di matamu, hanya ada setumpuk penyesalan,
dan kita yang bukan aku.

pergilah! pergilah dengannya.
sebab bintang yang dahulu berkilau
karena cintamu dan kerinduanku,
kini telah padam.

D.C

Delbin Clyte feat. Sabeb Band – Promo film Kok Putusin Gue

Keajaiban Minggu

Sesungguhnya, David malas pergi ke bar malam ini. Namun entah kenapa sepulang bekerja pukul delapan malam tadi tiba-tiba kesuntukan mulai kembali menghantui dirinya. Jadilah sekarang dia duduk di depan meja bar, menggulung lengan kemeja panjangnya, lalu mereguk beberapa gelas scotch, mencoba meresapi musik jazz yang dibawakan oleh band yang sedang tampil. Suasana bar yang ramai dan riuh, bukan karena keesokan hari adalah Sabtu, bar ini memang selalu ramai pengunjung. Minuman murah, musik pengiring minum yang apik, alasan yang cukup masuk akal bagi para pencari hiburan malam untuk datang ke sini. Namun sebenarnya dahulu David bukanlah seorang pemabuk.

Tandas gelas ke-lima, lelaki berumur tiga puluh sembilan tahun dan berambut pirang lurus ini menarik rambut serta sedikit menggeleng-gelengkan kepala, mencoba tetap tersadar dari mabuk, merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa lembar dollar yang sengaja tidak diletakkannya di dalam dompet agar mudah untuk membayar minuman.
“Pulanglah, D, angkat pantatmu dari kursi, kau sudah cukup mabuk,” ujar seorang bartender yang sudah mengenal David sembari menerima uang.
“Kau seperti bisa menebak pikiranku, Joey, aku memang akan pulang.” David segera bangkit.
“Hindari masalah!” seru Joey kepada David yang berjalan ke arah pintu keluar. David hanya mengangkat tangan kanan memberi isyarat dan terus berjalan menuju pintu.

Bukan karena sorot lampu di sepanjang Moonwalk yang membikin suasana benderang, bulan pertengahan Mei memang sedang sepenuhnya bundar. Dari sini mata dapat menangkap permukaan sungai Mississippi dengan begitu jelas. Cahaya dari langit memantul keperakan. Di sudut tertentu, para seniman jalanan tengah khidmat memainkan musik jazz. New Orleans, tempat di mana musik jazz bermula. Topi digelar di lantai agar orang-orang yang lewat dapat menaruh uang. Malam sudah larut, suasana mulai sepi, David yang memandang permukaan sungai nampaknya semakin jauh terseret ke masa lalu. Tiga tahun silam badai Katrina melanda kota ini. Banyak orang kehilangan segalanya, termasuk David. Sudah setahun lelaki yang lahir dan tumbuh di kota ini bercerai dengan Anne, situasi yang membikin dia berpisah dengan anak-anaknya, terlebih lagi, dia kehilangan kebersamaan dengan satu-satunya keluarga yang dia miliki kini.

David memutuskan pulang. Bukan lantaran takut akan hantu karena suasana sepi di kota voodoo ini, dia tidak memercayai bualan semacam itu. David lebih khawatir dengan bandit jalanan yang tidak segan-segan meletuskan pistol demi sebuah dompet. Seperti yang dialami adik lelaki David tujuh bulan lalu, hal yang membuat garis keturunan mendiang Ayah dan Ibunya tinggal David seorang. Pagi hari nanti dia akan berpiknik dengan kedua anaknya.
***
Pukul sembilan lewat sepuluh menit pagi hari. Kesabaran Anne mulai menipis, kali ini dia mengetuk pintu rumah David dengan begitu keras.
“DAVID! Aku tahu kau ada di dalam!” Anne berteriak dengan aksen British yang kental.
“Yeah, tidak perlu membobol pintu rumahku!” suara David terdengar dari balik pintu. Tidak lama kemudian suara pintu berderit, terbuka.
“Pukul berapa ini?” Anne melotot, membuat bola mata birunya semakin terlihat jelas.
“O, maaf, semalam aku lembur.” David berkilah.
“Oh-ya? Lembur di bar? Napasmu masih bau alkohol, D!” Anne bertolak pinggang.

Richard, putra sulung serta Marry, putri bungsu David dan Anne turun dari mobil van diikuti oleh Tomy, suami Anne. Richard lebih dulu masuk ke dalam rumah dengan acuh, melewati Anne dan David begitu saja.
“Hei, tak ada sapa? Jabat tangan, pelukan?” David menoleh ke arah Richard.
“Halo, Dad,” Marry mendekap David, David membalasnya.
“Marry ada tugas sekolah yang mesti dikumpulkan Senin nanti,” ujar Anne yang tanpa basa-basi memasuki rumah David.
“Sudah hampir selesai, Mom, banyak hal lain yang lebih pantas dicemaskan selain tugasku,” seloroh Gadis berumur sebelas tahun yang terus menggenggam tangan David ini sembari mengikuti Ibunya memasuki rumah dan Tomy mengiringi di belakang. Sementara itu, putra sulung David yang berumur lima belas tahun dan mewarisi mata biru Ibunya sudah duduk di sofa, sibuk memainkan telepon-genggam.
“Ibumu memang gemar mencemaskan hal yang tidak perlu,” David berbisik.
Anne yang sudah membuka kulkas menoleh ke arah David, mendelik sejenak, lalu kembali melihat-lihat isi kulkas. “Kulkasmu kosong, lalu apa yang akan kalian santap nanti ketika di sana?”
“Hei, berhenti membongkar isi kulkas, ini rumahku!” David memulai bertingkah menyebalkan.
“Mereka anak-anakku! Mau kau beri makan apa mereka nanti?!” Anne menutup kulkas dengan sedikit kencang, lalu bertolak pinggang menghadap ke arah David.
“Mmhhh…, sebaiknya aku menunggu di mobil.” Tomy merasa tak enak, lalu bergegas pergi. “Sampai jumpa lagi, Marry,” Tomy mencium kening gadis yang berambut pirang-lurus sebahu seperti Ibunya dan bermata coklat seperti Ayahnya ini.
“Daging untuk dipanggang akan lebih lezat jika masih segar, aku berencana akan membeli daging untuk barbeque di perjalanan nanti,” David berkilah.
Anne tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepala, “Seakan aku baru mengenalmu saja, D!” Wanita yang masih terlihat muda meski sudah berumur tiga puluh delapan tahun ini menghampiri Richard, “Jaga adikmu, turuti Ayahmu,” ucapnya sambil membelai rambut merah-lurus Richard, lalu menghampiri Marry, memeluknya, “Ibu akan menjemputmu Minggu sore, jangan nakal!”
“Aku bisa mengurus mereka,” David menyambar.
“Pegang kata-katamu!” seru Anne, “Sampai jumpa lagi, semuanya!”

Dikarenakan urusan bisnis dan acara keluarga besar Tomy, Anne dan Tomy akhir pekan itu berangkat ke New York, menitipkan Richard dan Marry kepada David. Hal ini bagus bagi David untuk melakukan pendekatan kembali dengan anak-anaknya, terutama dengan Richard. Dahulu David dan Richard adalah tim, begitu dekat dan keduanya bisa diandalkan bagi Anne dan Marry, sejak perceraian orang-tuanya sikap Richard berubah total terhadap Ayahnya.
“Ayah mandi dulu, sebaiknya kalian bersiap!” ujar David.
“Bisakah kita di kota saja? Aku malas ke rumah di tepi sungai itu,” ketus Richard.
“Kau butuh piknik, Richy, kalian berdua butuh piknik!” David menunjuk kedua anaknya.
“Sepertinya Ayah yang lebih butuh piknik,” jawab Marry.
“Ayolah, D! Aku jenuh mendengar bualanmu!” Richard berdiri, sejajar dengan bahu Ayahnya yang memiliki tinggi badan 176-cm.
“Hei…,” David seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan, menghela napas berat, “Sudahlah…, kalian lekas bersiap-siap!”
***
David membuka bagasi Holden tuanya, lalu menaruh plastik-plastik yang berisi belanjaan di sana. Holden dengan cat keemasan yang telah memudar warnanya ini adalah mobil kebanggaan David, warisan Ayahnya yang tak akan pernah dia jual.
“Dad, aku mau pipis,” ucap Marry di samping mobil sembari meringis.
“Kenapa nggak dari tadi, sih?” ketus Richard.
“Jangan kasar, Richy, lekas antar adikmu.” Plastik-plastik belanjaan semuanya sudah diletakkan, David menutup bagasi mobil.
“Hei…,” Richard semakin sebal.
“Tak apa, aku bisa sendiri,” Marry menuju ke arah toilet yang berada di samping supermarket, sedikit jauh dari lokasi parkir. Marry merasa tak enak melihat Ayah dan Kakaknya menjadi bertengkar.

Ayah dan anak lelaki ini berdiri di luar mobil menunggu Marry, David berdiri di samping bagasi sebelah kanan, Richard berdiri di sisi bagasi sebelah kiri, hanya saling berdiam tanpa kata-kata. Situasi yang canggung. Sebenarnya betapa ingin Richard mengajak Ayahnya berbincang, sudah berbulan-bulan dia tidak bertemu dengan David. Kangen, namun gengsi sekaligus sebal dan bahkan benci, benci akan ketidak-mampuan David mempertahankan keutuhan keluarga. Richard masih tidak terima bahwa Ayah dan Ibunya telah bercerai.
“Aku akan masuk ke dalam mobil. Sebaiknya kita menunggu Marry di dalam mobil.” David berujar, lalu segera masuk dari pintu depan. Richard segera turut masuk, namun masuk dari pintu belakang, duduk di jok belakang. Memang sejak awal mereka berangkat, orang yang duduk di samping David–di jok depan, ialah Marry.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, menuju dermaga. Deretan pohon palem yang berjejer sejajar dengan tiang listrik, angin yang berhembus kencang dan suara kicau burung-burung begitu akrab di mata David, Richard dan Marry sejak lima menit tadi. Mereka akhirnya sampai di dermaga. David memarkirkan mobil di halaman kosong seberang deretan rumah-rumah bertingkat dua yang dibangun persis di tepi sungai–tepat di bawah bangunannya adalah tempat orang-orang memarkirkan perahu motor.
“Kyaaa!!! Sungai, sungai, sungai!!!” Marry begitu bersemangat, membuka pintu mobil tanpa dikomando sembari bernyanyi riang.
“Hei, jangan lupa tasmu!” seru David yang juga segera keluar dari mobil lalu berjalan ke bagasi, hendak mengambil barang-barang yang dibawa.
“Ini,” David memberikan tas koper berukuran kecil berwarna merah jambu kepada Marry, juga plastik kecil berisi makanan-makanan ringan.
“Oke! Kau bisa mengandalkanku, Dad!” sigap Marry menerimanya.
“Ini,” David juga memberikan tas ransel kepada pimiliknya, serta beberapa plastik. Richard menerima tanpa komentar apa pun.
***
Pohon-pohon baldcypress–pohon yang berbentuk piramidal umumnya seperti cemara dan banyak terdapat di Amerika Selatan sepanjang sungai Mississippi– serta flora-flora lain nampak menghijau di tepi sungai. Mereka memacu perahu motor dengan sedikit kencang. Nyaris tengah hari, sebentar lagi waktunya makan siang. Perut David dan kedua anaknya ini mulai keroncongan.

David melambatkan laju perahu motor. Tidak jauh di depan telah terlihat dermaga kecil di antara rawa-rawa, tempat tujuan. Nampak ada dua perahu motor yang terparkir di dermaga itu. Setelah David mematikan mesin motor perahu dan mengaitkan tali di tiang dermaga, dengan lekas mereka turun ke daratan dan menuju ke rumah peninggalan keluarga David yang terletak sekitar 200-meter dari sebelah kanan dermaga. Sebelum sampai, mereka melewati sebuah rumah tua yang terletak dekat dengan tepi sungai. Dari luar, rumah ini terlihat tidak terawat. Di dekat rumah ditumbuhi pohon Southern Live Oak, atau disebut juga Quercus Virginiana, jenis pohon oak yang terdapat di Amerika Selatan, dengan cabang batang yang lebar dan berdaun rindang, sulur dari batang-batangnya menghiasi jalan setapak, bahkan sampai ke teras rumah tua ini di mana terdapat seorang perempuan separuh baya yang sedang duduk asyik membaca sebuah buku di sana.
“Nenek itu penghuni baru di sini, Dad?” tanya Marry sembari menunjuk perempuan yang duduk di teras rumah tua ketika melintas di depannya. Sebab, terakhir dia ke sini, rumah tua ini masih kosong.
“Yap, Madam Jacquine. Kata orang-orang dia penyihir,” ucap David enteng dan terus berjalan.
“D, jangan menakut-nakuti Marry!” seru Richard yang berjalan di belakang David dan Marry, mempercepat langkahnya.
“Kau takut, Manisku?” tanya David, menoleh dan tersenyum ke arah Marry.
“Tidak!” Marry menggelengkan kepala, lalu menoleh ke belakang, wajah nenek tadi terlihat dari sela sulur pohon oak, menambah kesan angker. Sang nenek membalas menatap Marry, tersenyum dan melambaikan tangan, Marry membalasnya. “Mungkin Kak Richy yang takut,” Marry malah menggoda Richard lalu tertawa.
“Sembarangan!” Richard menyusul adiknya, dan menarik pelan rambut Marry.

Tidak memakan waktu lama, mereka sudah sampai di rumah peninggalan keluarga David. Rumah dua tingkat dengan gaya bangunan kuno, namun terlihat mewah. David rutin ke sini, nyaris setiap akhir pekan tidak pernah absen, karena itu rumahnya masih terlihat terawat. Dalam kondisi keuangan seperti apa pun, David tak akan menjual rumah ini. Rumahnya sudah beberapa kali ditawar orang, namun lelaki berbadan atletis ini tak pernah tertarik untuk menjualnya.

Setelah berbenah dan beristirahat sejenak, David mengajak anak-anaknya untuk memulai pesta barbeque di halaman rumah dengan panorama sungai dan pepohonan. David segera menyiapkan peralatan yang diperlukan, semua perlengkapannya memang telah tersedia di rumah ini, sebab dahulu mereka sekeluarga memang rutin mengadakan pesta barbeque setiap akhir pekan.

David dan Marry dengan riang membumbui daging yang sedang dipanggang di atas alatnya, sementara Richard hanya duduk di teras, asyik sendiri dengan telepon-genggam.
“HALO, TUAN MISSISSIPPI!!!” tiba-tiba Marry dengan lantang berteriak ke arah sungai.
“Hei, jangan mengganggu tetangga!” David berujar sembari tertawa dan melirik sekeliling.
“APA?!” Marry berteriak kembali.
“JANGAN BANGUNKAN TUAN MISSISSIPPI!!!” David berteriak, lalu tertawa bersama Marry. Hal ini semacam lelucon yang sering mereka lakukan bersama-sama dahulu. Sebab di sekitar rumah ini memang jarang ada tetangga, jarak dari rumah ke rumah berpuluh-puluh meter.
“Lelucon semacam itu sudah kuno!” tiba-tiba Richard berbicara sinis.
“Ayolah, kau dulu juga suka melakukan ini,” David menunjuk Richard dengan penjepit untuk membolak-balikkan daging yang sedang dipanggang.
Richard cuek, malah masuk ke dalam rumah. “Marry, panggil aku jika steaknya sudah matang,” Richard yang sudah berada di dalam rumah setengah berteriak. Situasi menjadi canggung.
***
Pukul lima lewat duapuluh menit. Empat jam lebih sejak usai santap siang tadi David tertidur. David heran mendapati rumahnya sepi, dia bergegas keluar rumah, mencari Richard dan Marry. Di tepi sungai, berjarak sekitar 50-meter dari halaman rumahnya, David melihat Richard, lalu segera menghampirinya.
“Adikmu di mana?” David setengah berteriak dan terus berjalan menghampiri Richard yang sudah dekat.
“Entahlah, aku baru bangun tidur sepuluh menit lalu. Mungkin Marry juga tertidur di kamarnya?” ucap Richard.
DEG! “Mari lekas, kita cari adikmu!” seru David tanpa basa-basi.

Pertama-tama, mereka mencari si bungsu di setiap sudut ruangan rumah, tidak ketemu, David dan Richard mulai panik. Mereka menuju ke arah dermaga kecil sembari meneriakkan nama Marry. Richard ke teras rumah Madam Jacquine, sementara David berlari ke arah dermaga. Richard mengintip dari jendela rumah, di dalam nampak kosong, dan buru-buru Richard menyusul David karena merasa takut memasuki halaman rumah orang yang misterius tanpa izin.
“Bagaimana?” tanya David kepada Richard yang menghampirinya di pinggir dermaga.
Richard menggelengkan kepala. “Bagaimana dengan rumah itu?” Richard menunjuk suatu gubuk yang sedikit besar bertolak lebih jauh dari jarak rumah keluarga David dan rumah Madam Jacquine.

Tanpa menjawab pertanyaan Richard, David bergegas menuju gubuk yang ditunjuk anaknya tadi, diikuti oleh Richard. Tiba-tiba firasat David tak enak ketika sudah mendekati pelataran gubuk, lelaki yang terbiasa memakai celana jeans bahkan saat bekerja ini ingin mencegah Richard untuk mengintip jendela gubuk, namun kepalang tanggung, putra sulungnya terlanjur menaiki anak tangga teras, David segera menyusulnya.
“Marry…!!!” David dan Richard kompak meneriakkan nama Marry.
Namun yang muncul dari balik pintu ialah seorang lelaki Meksiko, berambut ikal memakai jeans hitam dan kemeja hitam. “Ada apa?” tanya lelaki Meksiko.
“Maaf, aku mencari putriku, apakah tadi kau melihatnya bermain sekitar sini?” David berusaha bertanya baik-baik dan mengacuhkan suara samar orang mengerang.
Lelaki Meksiko menggelengkan kepala. “Pergilah! Jangan memasuki properti pribadiku tanpa izin!” serunya.
“Baik…, baiklah, maafkan kami,” David menarik lengan Richard yang daritadi memerhatikan lelaki Meksiko ini.
“Apa kau mendengarnya?” tanya Richard berbisik sembari mengikuti langkah Ayahnya.
“Ya, tidak salah lagi, itu adalah suara orang mengerang!” ucap David dengan suara bergetar.

Tiba-tiba langkah Richard berubah arah, dengan sedikit menunduk dia menuju ke belakang gubuk itu. David sigap mengikuti, namun ketika sampai di belakang gubuk David menarik tangan anaknya yang memakai jeans berwarna biru, sama dengan yang David kenakan. Perlahan David mengintip dua bingkai jendela kecil, dan betapa terkejut dia melihat banyak laki-laki dan perempuan yang sedang dibekap di ruangan sempit itu. Richard penasaran, dan turut mengintip, Richard bahkan nyaris berteriak ketika menyaksikan pemandangan itu, namun David segera menutup mulut anaknya. Lalu tiba-tiba saja, ‘BUK!’ sepotong balok menghantam David!
“Daddy…!!!” sontak Richard berteriak menyaksikan Ayahnya tumbang dihantam kayu balok oleh seorang lelaki kulit putih dari belakang.
***
David berusaha membuka mata lebar-lebar, pandangannya masih kabur. Kepalanya terasa sakit sekali. Perlahan, dia mulai bisa melihat, dan tersadar bahwa pergelangan kedua tangan dan kakinya terikat tali. David kaget bukan main, di sekelilingnya banyak perempuan-perempuan yang juga terikat dengan wajah begitu pucat, seperti sedang mabuk berat.
“Dad…, Daddy…!!!” Richard yang berada di sisi sebelah kirinya berusaha memanggil dengan berbisik, “Kau tidak apa-apa?” sambungnya.
“Yeah!” David mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengendalikan dirinya.
“Tidak ada Marry di sini,” lanjut Richard, dan memberi kode dengan tatapan matanya bahwa di antara Richard dan David terdapat pecahan botol. Namun, posisi Richard lebih dekat dengan pecahan botol itu, lelaki yang memiliki prestasi cukup bagus di sekolahnya ini memanjangkan kakinya, mencoba menggeser pecahan kaca agar lebih dekat dengan David. Berhasil! David berusaha menggerakkan badan agar posisinya berada di depan pecahan kaca, lalu menjangkaunya dengan tangan terikat.
Tiba-tiba saja pintu terbuka! “Hei, bisa tenang sedikit?!” seru lelaki kulit putih yang tadi menyerang David. Richard dan David terkejut, lalu terdiam. Lelaki kulit putih itu kembali menutup pintu, namun tidak sampai benar-benar tertutup.
“Hei, Henry, ada apa?” lelaki Meksiko baru saja menuruni tangga dari lantai atas rumah.
“Lelaki itu sudah siuman!” seru lelaki kulit putih yang ternyata bernama Henry.
“Sayang sekali suntikan kita habis, mesti menunggu Raymond ke sini baru dapat menyuntik mereka,” ucap lelaki Meksiko yang punggungnya terlihat dari dalam ruangan di mana terdapat David dan Richard, juga, nampak senjata api di sela celana jeans yang dia kenakan.
“Tak apa, esok pagi Raymond kembali ke sini, sekaligus membawa para pelacur itu,” Henry mengambil botol bir dari atas meja, lalu menenggaknya. “Aku segera kembali!” lelaki bertubuh gempal dan memiliki tinggi badan sedikit melampaui David ini berlalu.

David berhasil melepaskan diri, dan meraih linggis di sudut ruangan. Celaka, karena pergerakan David, salah satu perempuan yang terikat dan teler merespon dengan racauan tak jelas. Lelaki Meksiko menyadari ada yang tidak beres, lalu terdengar langkahnya mendekati ruangan tempat orang-orang disekap. David bergegas berdiri di balik pintu dengan linggis yang sudah siap dilayangkan ke wajah lelaki Meksiko ini. Suara derit pintu terbuka, hantaman keras tepat mengenai kepala lelaki Meksiko! David tak mau menyia-nyiakan kesempatan, karena dia tahu lelaki Meksiko ini memiliki pistol. David segera menghampiri Richard membebaskannya, berhasil.
“HEI!!!” Henry yang menyadari situasi genting bagi pihaknya berlari dari ruang tengah.
“Lekas kembali ke rumah, temukan adikmu, telepon 911!” seru David seraya menghantap kaca jendela dengan liggis.
“Tapi, Dad…” Richard ragu meninggalkan Ayahnya seorang diri.
“Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat, Richy! Lekas!” David mengacungkan linggis kepada Henry yang telah berdiri di hadapanya.

Richard melompat keluar jendela dan segera mengambil telepon-genggam dari saku celananya, lalu menghubungi 911 sambil berlari. Sementara Henry, dia mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. David melayangkan linggis, Henry mengelak, mengayunkan pisau secara vertical, David mengelak ke samping dan menghantamkan linggis ke bahu kiri Henry. Henry terjerembab, namun segera bangkit.
“Come on!” David bersemangat. Sekali lagi David mengayunkan linggis, kali ini Henry yang mengelak dan menghunuskan pisau ke perut David yang terbuka, menjadi sasaran empuk. David tumbang berlumur darah. Tak mau menyia-nyiakan waktu, setelah mencabut pisau di perut David, Henry segera mengejar Richard yang tadi berlari ke rumahnya. Darah mengalir dari perut David. Dia berusaha mengatur napas yang tersengal-sengal, mencoba bangkit, dan merangkak ke tempat lelaki Meksiko yang terkapar, mengambil pistol di sela celana jenasnya. David tak mau membuang-buang waktu, dengan terus menekan perutnya dia menuju ke arah rumahnya, mengejar Henry.

Henry sudah sampai di jalan setapak depan rumah Madam Jacquine, yang kebetulan si empu rumah sedang membuka pintu dan keluar. Mereka hanya saling tatap sejenak, lalu Henry melanjutkan mencari anak remaja yang tadi berhasil meloloskan diri dan Madam Jacquine kembali masuk ke rumahnya. Sementara Richard masih berputar-putar di dalam rumah sembari memanggil Marry dengan nada suara bergetar, lalu ketika melihat ke jendela dia melihat cahaya senter, dan wajah Henry. Richard masuk ke dalam kamarnya, bersembunyi di bawah ranjang.

Nyaris sepuluh menit Henry berputar-putar di dalam rumah keluarga David, dan beberapa kali juga Richard pindah tempat persembunyian. Mereka seperti main kucing-kucingan. Henry keluar rumah, dia seperti mendengar sesuatu di belakang rumah. Richard mengintip dari balik jendela, melihat Henry menuju ke belakang rumah. Tiba-tiba Richard teringat dengan Madam Jacquine, dia berlari menuju ke rumah nenek misterius itu. Ketika tiba di depan pintu rumah Madam Jacquine, Richard segera menggedor pintu. Madam Jacquine segera muncul dan mempersilahkan Richard masuk. JRENG! Ternyata ada Marry di dalam rumah Madam Jacquine. Tengah asyik menyantap roti di meja makan.
“Marry!” Richard berlari, mendekap Marry.
“Ada apa, Kak? Kenapa wajahmu pucat dan gemetar seperti ini?” Marry malah heran.
“Aku baru mau mengantar Marry pulang, nanti ketika dia selesai makan,” Madam Jacquine menghampiri kakak-beradik ini, “Ada apa?” sambungnya lagi.

Richard menceritakan semuanya. Juga Madam Jacquine, menceritakan bahwa tadi petang Marry main ke rumahnya, lalu sempat tertidur karena letih. Tapi tiba-tiba terdengar suara letusan, dua kali! Jelas ini adalah suara senjata api. Mereka bertiga serentak keluar, dan melihat ke arah suara letusan itu berasal. Tak lama kemudian muncul sesosok bayangan lelaki berjalan ke arah rumah Madam Jacquine. Karena gelap, mereka tak tahu siapa lelaki yang tengah menghampiri itu. Richard, Marry dan Madam Jacquine ketakutan. Namun ketika mereka bertiga hendak masuk ke dalam rumah, lelaki itu memanggil Richard dan Marry.
“Itu suara Daddy!” seru Richard.
“Daddy…!!!” Marry ingin berlari menghampiri David yang sudah dekat dari rumah Madam Jacquine dan mulai terlihat jelas.
Tiba-tiba Madam Jacquine menarik tangan Marry. “Jangan ada yang bergerak!” serunya sambil menodongkan senjata api kepada Marry. Gadis lugu yang mengira Madam Jacquine ialah perempuan baik sejak tadi menangis sejadinya. Richard pun kaget dan gemetar.
“Oke, tenang, jangan menembak gadis kecil itu,” Davis memohon dan mengangkat tangan dengan pistol digenggam tangan kanannya.
“Letakkan senjatamu!” seru Madam Jacquine.
“Tentu. Tolong, jangan tembak anakku,” David meletakkan pistol ke tanah dengan perlahan.

Tiba-tiba Richard melompat dan mencengkram lengan Madam Jacquine yang sedang memegang pistol, mereka berdua berguling-guling dan perempuan yang ternyata komplotan bandit ini refleks menembak, namun tidak mengenai siapa-siapa. Marry berlari ke arah ayahnya yang lemas kehilangan banyak darah, sementara Richard masih berusaha merebut pistol.
“JANGAN BERGERAK!!! BUANG SENJATAMU!!!” tiba-tiba salah satu polisi berteriak menodongkan senjata ke arah mereka yang tengah bergulat, tempat itu sudah dikepung NOPD.
“Dia penjahatnya, Pak! Aku ialah lelaki yang tadi melapor,” Richard menunjuk Madam Jacquine yang sudah melepaskan pistol. Lantas Richard berlari ke tempat David terkapar. “Dad…, Daddy! Kau baik-baik saja?” Richard segera menggenggam tangan David dan Marry yang tak henti menangis.
David mengangguk dan beberapa kali terbatuk.
“I love you, Dad! Tolong jangan tinggalkan kami,” Richard juga ikut menangis.
David tersenyum mendengar ucapan Richard, sesaat sebelum dia tak sadarkan diri. Para polisi mulai sibuk dengan urusannya, juga berupaya menyelamatkan ayah Richard dan Marry.
***
Masa kritis David sudah lewat, pun dia baru siuman. Perawat baru saja mengerjakan apa-apa yang diperlukan untuk menangani kondisi David yang baru sadarkan diri. Tubuh David terasa seperti rontok, kepalanya pening sekali. Anne, Richard dan Marry masuk ke ruang rawat.
“Daddy…!!!” Marry setengah berlari menghampiri David, diiringi Anne. Sementara Richard duduk di sofa yang telah disediakan.
“Bagaimana kondisimu?” Anne membelai pipi David dan melayangkan senyum manisnya.
“Mmhhh… Hari apa ini?” David mencoba mengubah posisi setengah duduk..
“Minggu sore,” Anne membantu mantan suaminya untuk setengah duduk.
“Minggu sore?” David seperti orang ling-lung.
Anne mengangguk, “Kau beruntung, sebenarnya RS kehabisan stok darah golongan B dan O.”
“Lalu?” David bingung. Anne mengarahkan pandangan kepada Richard, memberi kode yang segera ditangkap oleh David. “Hei, Jagoan!” David memanggil putra sulungnya, Richard segera menghampiri malu-malu. “Terima kasih,” ucap David sembari mengelus lengan Richard.
“Tak masalah, D, aku senang akhirnya kau selamat,” Richard tersenyum.
“Hei, ke mana kata ‘Daddy’ yang semalam kau ucapkan?” David sedikit kecewa.
“Sebenarnya…, maksud Richy memanggilmu ‘D’ adalah inisial dari ‘Daddy’,” Anne tertawa.
“Mom, tolong hentikan!” Richard tertawa malu. David, Anne dan Marry turut tertawa senang.
“Sudah diputuskan, malam ini kami akan menginap di RS, menjaga Daddy!” Marry bersemangat.
“Tidak boleh! Kau dan Richy besok sekolah. Bagaimana dengan tugasmu?” David melotot kepada Marry, lalu melirik Anne.
“Tugas? Tugas apa?” ucap Marry dan Anne kompak, berlagak pilon, mengacuhkan tugas dan sekolah agar mereka bertiga dapat menjaga David malam ini. Mereka semua tertawa bahagia.

Tamat…

Tentang Kepergian

sebab
kita adalah
ingatan, yang kelak

akan menuntun,
pada sebuah
kepulangan.


D.C

Membias Senandung

: Nggra


Kubisikkan apa yang lebih lebat dari hujan. Pohon-pohon ngungun, gemetar seperti sorot lampu yang cacat digugat sang rintik. Ini kali pertama udara menjelma petaka, trotoar ringsek dihantam algojo-algojo yang tidak pada tempatnya. Matamulah elegi itu, tipis memancar di sela gerai rambut yang hanyut akan senandung angin musim barat. Kaurangkul mendung-mendung, kendati malam telah menjelma zat yang lebur dengan kerinduan. Kunyalakan rembang, namun cahaya rembulan memang kerap bias. Tapi hujan sungguh tak pernah seruncing tatapanmu yang mampu merampas dingin, dan telah dinobatkan musim sebagai tonggak.

Kembali kubisikkan apa yang lebih lebat dari hujan, “Adalah Kita.”


D.C

Angin Kepulangan

Ringan, tipis dan nyaris tak berbobot, senyap suara yang sejenak tadi samar kini alangkah menggema. Kenangan-kenangan purba berjatuhan dari tiap helai bulu-mataku, seperti ketika kuinjakkan kaki kembali di pekarangan rumah, yang milik kita: Gorden yang kerap melambai diembus angin, denting porselen yang memantulkan sepi, kain-kain yang baru saja diantar binatu. Kamu menyebut gubuk ini sebagai rumah cahaya, maut bagi segala nyeri. Tapi, Sayang, kini benalu terlanjur merambati pagar.

Tidak mengapa, katamu, cengkraman tanganmu masih begitu kokoh untuk menggenggam gagang sapu. Daun-daun luruh berserakan, debu-debu yang nyaris menghitam, lekas kita singkirkan.

D.C

MEMULAI

Cerita ini dimulai dari sebuah desir angin. Angin yang membawa aroma pertemuan; membuat rel berdecit tatkala kereta berhenti di lingir peron. Angin yang membikin gerai rambutmu mengepul dan berdebar dadaku menyusuri setiap terminal nasib. Angin yang menyampaikan sebuah janji manis sang maut dan seratus Batari yang memuji pun menguji jari-jemari kita yang kerap saling berpaut, akan perjuangan, tentang selaput tabah yang takkan koyak oleh tajamnya distorsi prasangka.

Pemberhentian adalah waktu…

Cerita ini tak pula akan terhenti oleh gemetar mungil kaki-kaki kita, yang kelak telah menjelma keriput, atau bahkan oleh musim dan senja yang telah habis.

 
D.C

MOMENTUM

“Takdir atau nasib baik yang menggiring benak dan langkah menuju pertemuan?”

Seperti kata, seperti kita, pada sebuah hari yang dini terbesit satu gagasan, ‘mari hindari percakapan basa-basi’, aku dan kamu serentak. Menatap ke kelak, seruncing apa pun masa yang lampau tak akan rampung mengoyak tekad, bahkan selaput yang sesamar kabut tak akan mampu ditembus. Ini masih terlalu dini, katamu. Tapi, Sayang, hati tak dapat menerka kapan cinta akan dijatuhkan. Aku menyaksikan langit memanjakan pijar, dan mencoba menghitung seratus kerlip yang baik mengitari semesta matamu. Kita hanyut. Kita larut. Berbagi keheningan. Berbagi keheningan. Berbagi keheningan. Bersuka-cita menyambut perhelatan musim indah setelahnya.

 

D.C

« Older entries